Perubahan Diri dan Masa Transisi


Perubahan bukan hal baru bagi seorang manusia, namun bisa jadi bukan yang utama bagi sebahagian manusia. Pada hakikatnya manusia itu mengerti bahwa dirinya tidak dapat terus menerus hanya mengulangi praktek-praktek keberhasilan di masa lalu. Hal ini dikarena sebuah kondisi tidak akan pernah stagnan dan sudah pasti dinamis dari masa ke masa.

Hal ini sangat berkaitan dengan tulisan saya sebelumnya tentang “arti pentingnya sejarah”. Praktek keberhasilan di masa lalu itu penting untuk pengetahuan masa sekarang dan penting sebagai tolak ukur, apakah masa sekarang sudah lebih berhasil dari masa yang lalu? Karena itu, perubahan diperlukan untuk menjadikan hari esok lebih baik dari hari sekarang.

Perubahan yang dikehendaki setiap orang, insyaAllah ke arah yang lebih baik, akan tetapi tidak semua mengerti bahwa setiap perubahan akan selalu ada masa transisi yang bisa jadi terasa tidak baik atau tidak nyaman. Yang ada dalam pikiran orang-orang yang tak mengerti adalah perubahan akan langsung ada hasil nyata.

Sebelum lebih lanjut membahas diri manusia, saya ingin sampaikan sebuah literatur umum mengenai perubahan dan masa transisi tersebut. Menurut buku dari pebisnis terkenal, Peter F. Drucker, perubahan memerlukan keadaan transisi atau suatu re-orientasi psikologis. Transisi terjadi lebih lambat daripada perubahan dan mencakup tiga proses:

  1. Meninggalkan cara lama yang membuat orang sukses di masa lampau dan merupakan bagian dari identitas mereka sebelumnya.
  2. Berubah menjadi netral, mengatasi ketidakpastian, dan mengerjakan apa yang diminta.
  3. Bergerak maju dan berperilaku dengan cara baru.

Tiga poin diatas bisa kita lihat similaritasnya dengan perubahan yang terjadi di masa Rasulullah Saw.

  1. Meninggalkan cara-cara hidup jahiliyah yang merupakan identitas bangsa Arab ketika itu.
  2. Masa sulit ketika berda’wah secara diam-diam, da’wah terang-terangan, hijrah dari Makkah ke Madinah dan sampai sempurnanya agama Islam dengan sempurna diturunkan Al-Quran sebagai pedoman hidup manusia.
  3. Masa kejayaan para sahabat islam pada abad ke-7 hingga abad ke-14.

Ternyata ajaran Islam telah mengajarinya lebih dulu tentang perubahan, yaitu dengan meninggalkan cara-cara yang tidak sesuai syariat kepada cara hidup yang sesuai dengan syariat Islam. Hidup orang-orang yang berusaha memegang syariat memang tidaklah mudah. Orang-orang yang beriman akan selalu diuji imannya oleh Allah hingga kematian datang menjemput.

Ada dua macam manusia yang berada pada masa transisi, yang saya kutip dari sebuah buku terkenal di dunia manajemen. “Secara umum perubahan bukan hal yang disukai. Ada yang merasa tidak nyaman bila harus meninggalkan hal-hal yang sudah menjadi rutinitasnya. Biasanya akan ada yang beranggapan periode sebelum masa transisi atau zona netral lebih menyenangkan, dan mencoba untuk kembali ke masa tersebut. Namun ada pula yang lebih menikmati masa-masa penuh ketidakpastian karena kondisi seperti itu memacunya untuk lebih kreatif. Situasi yang sudah mapan setelah berakhirnya zona netral bagi mereka dianggap membosankan.” (William Bridges, Managing Transitions: Making The Most of Change, 2nd Ed).

Dua tipe manusia tersebut yang terjadi diantara kita saat ini. Ada orang-orang yang tetap tenang dan fokus berkarya untuk agama dan bangsa, dan ada juga orang-orang yang frustasi menghadapi masa transisi dunia ini, yang kemudian ia menjadi lupa diri dan berbuat hal-hal yang justru merugikan dirinya sendiri.

Itulah kenapa kita lihat banyak kekerasan akhir-akhir ini di Indonesia. Kumpulan orang-orang yang tidak siap dengan keadaan transisi, dan kemudian menjadi orang-orang yang lupa diri. Alih-alih menjadi orang bermanfaat, yang ada menjadi orang-orang yang meresahkan dan bermaksiat. Entah itu atas namanya sendiri atau golongan-golongan. Mereka lupa dengan firman Allah dalam surat Ar-Ruum ayat 30

فأقم وجهك للدين حنيفا فطرة الله التي فطر الناس عليها لا تبديل لخلق الله ذلك الدين القيم ولكن أكثر الناس لا يعلمون

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Tidak ada solusi lainnya bagi umat selain berpegang pada fitrah. Sesungguhnya manusia itu hidup di atas dunia adalah masa transisi sebelum semua kita menuju masa yang kekal di akhirat.

“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau penyeberang jalan.” Ibnu Umar rodhiallahu ‘anhu berkata, “Jika kamu berada di sore hari, jangan menunggu pagi hari, dan jika engkau di pagi hari janganlah menunggu sore, manfaatkanlah masa sehat. Sebelum datang masa sakitmu dan saat hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Bukhari)

Bagaimana dirimu menghadapi masa transisi sebelum dipanggil Allah ?

About Roland Yulianto
Setiap insan akan menjadi inspirasi, jika ia tulus memberikan cahayanya. Salah satu prinsip yang dipegang adalah "Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: