Sosok Pengasuh Teladan, Halimah As-Sa’diyah


Bismillaahirrahmaanirrahiim….

Ya Rasulullah salamun alaik
Ya rofi’assyaniwaddaroji

Siapa yang cinta pada nabinya
Pasti bahagia dalam hidupnya

(Rindu Muhamad-ku, Hadad Alwi )

Sepotong bait lagu di atas terdengar hingga ke dalam rumah kost berwarna merah muda di seberang jalan Kertajaya. Saya tau lagu-lagu itu dinyanyikan oleh anak-anak yang sedang merayakan Maulid Nabi di langgar seberang sana. Malam ini suasana seperti diselimuti oleh sayup-sayup shalawat Nabi yang terdengar jelas dari pengeras suara langgar. Terlepas dari pembahasan yang mengatakan merayakan itu bid’ah atau tidak, namun dalam saya tidak ingin membahasnya. Cukup bagiku untuk mengambil hikmah apa yang telah terjadi dimasa itu.

Lewat tulisan ini, saya hanya ingin sedikit berbagi cerita tentang seorang perempuan mulia yang pernah hidup bersama dengan Rasulullah S.A.W.  Siapa saja yang berbicara tentang Sirah Nabawiyyah pasti akan menemukan namanya, ia adalah Halimah as-Sa’diyah yang terkenal dengan kerpibadiannya yang mulia serta kelembutan hatinya.

Pada bulan Rabi’ Al-Awwal tahun 570, Aminah melahirkan Muhammad dalam keadaan yatim. Karena Abdulllah, ayahnya, wafat ketika Muhammad berumur 6 bulan di dalam kandungan.

Setelah Muhammad lahir, Aminah mencari seorang Ibu yang akan menyusui Muhammad kecil. Begitulah kebiasaan orang-orang Arab. Mereka akan menyusukan bayinya kepada orang lain. Kemudian, didapatlah orang yang akan mengasuh dan menyusui Muhammad kecil.

Adalah takdir Allah SWT yang menghendaki Halimah as-Sa’diyah menjadi Ibu susu bagi Muhammad bin Abdullah, yang datang bersama para wanita Bani Sa’ad. Karena pada saat itu tidak ada bayi yang disusui kecuali hanya cucu Abdul Muthalib yang yatim.

Halimah as-Sa’diyah berasal dari keturunan Bani Asad bin Bakar Hawazin sampai pada garis keturunan Qais ‘Ailan. Selama empat tahun, Rasulullah saw diasuh dan dididik oleh Halimah dengan akhlak Arab; solidaritas yang tinggi, kemuliaan, kebenaran, dan kejujuran. Ketika Muhammad menginjak usia lima tahun lebih satu bulan, Halimah mengembalikan kepada keluarganya setelah merasakan karunia Allah yang ia dapati selama mengasuh Muhammad, si yatim tersebut.

Pada masa kerasulannya, cinta Muhammad Rasulullah saw kepada Halimah begitu mendalam sampai suatu hari, datanglah salah seorang wanita memberitahu tentang kematian Halimah, beliau langsung berurai airmata. Setelah itu, wanita berkata kepada beliau, “Sesungguhnya saudara-saudarimu (satu susu) membutuhkanmu.” Datanglah beliau menemui mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka. Lebih lanjut wanita tersebut berkata, “sebaik-baik orang yang dikafili adalah kamu saat kecil. Dan, sebaik-baiknya orang juga kamu saat besar, karena kamu banyak membawa berkah’’.

Mendengar perkataan wanita tersebut, Rasulullah saw langsung teringat saat masa kecilnya, masa di mana beliau dan saudara-saudaranya merasakan belaian sayang seorang Ibu yang lembut. Sosok Ibu Halimah tentu meninggalkan kesan yang mendalam pada diri beliau. Makanya tidak heran begitu beliau mendengar berita kematian dari Ibu susu-nya tersebut, maka berlinanglah air matanya.

***

Kepada siapa saja yang memelihara anak yatim, saya persembahkan kisah Halimah as-Sa’diyah yang dibalas oleh Allah SWT dengan rezeki yang melimpah dan pahala yang agung lantaran kelembutan kasih sayang yang telah dicurahkan kepada anak yatim (Muhammad Saw).

Sekian tulisan saya tentang Halimah as-Sa’diyah, sebelumnya mohon maaf jika saya belum bisa menuliskannya secara rinci dan seluk beluknya yang mendalam. Menyambung dari kisah diatas, berbicara tentang mengasuh anak atau biasa disebut hadhanah memang merupakan kewajiban bersama ayah dan Ibu, akan tetapi Ibu memang lebih berhak dalam mengasuh anak.

Abdulllah bin Amr berkata, bahwa seorang perempuan bertanya, “Ya Rasulullah, sesungguhnya bagi anak laki-lakiku ini perutkulah yang menjadi bejananya, lambungkulah yang menjadi pelindungnya, dan susukulah yang menjadi minumannya, tetapi tiba-tiba ayahnya merasa berhak untuk mengambilnya dariku”. Rasulullah bersabda, “Engkau lebih berhak terhadapnya selama engkau belum kawin dengan orang lain (H.R Ahmad, Abu Dawud, Baihaqi, Hakim yang menyatakan shahih)

Namun bagaimana dengan para Ibu yang pada zaman sekarang banyak kita temui, jika harus berpisah dengan anaknya untuk sementara waktu, seperti bekerja dan menuntut ilmu? Dalam Fiqh Sunnah tulisan Sayyid Sabiq, dalam keadaan seperti itu bolehkan kita mencari pengasuh anak, namun dengan syarat pengasuh tersebut: berakal sehat, dewasa, mampu mendidik, amanah dan berbudi, Islam.

Wahai Bunda, bagaimana dengan kita saat ini? Sudahkah kita memperhatikan hal tersebut saat menitipkan anak-anak kita kepada orang lain? Saya yakin, usaha bunda untuk mencarikan pengasuh yang baik adalah bentuk perhatian dan kasih sayang bunda untuk memberikan yang terbaik pada anak-anak kita.

Pada usia awal kelahiran hingga 18 bulan, masa ini adalah masa dimana anak tergantung penuh kepada orang tua dan orang-orang di sekitarnya. Oleh karenanya, perlakuan orang tua dan orang-orang sekitar akan sangat mempengaruhi karakter si bayi. Jika setelah lahir ia didekap, disusui, merasakan kehangatan Ibu atau pengasuhnya, merasakan belaian sayang, saya yakin ia akan merasakan ikatan batin dengan Ibu atau pengasuhnya.

Anak adalah ibarat kertas putih, dan kita yang hadir sebagai orang tua atau pengasuh, adalah pemegang kuasnya. Kita lah yang akan memberikan warna pada kehidupannya. Pertanyaannya, warna apa yang sudah kita goreskan pada mereka? Apakah sudah layaknya Halimah as-Sa’diyah yang mendidik Rasulullah saw sedari kecil dengan akhlak mulia dan kelembutannya? J Kita tidak pernah tau anak yang ada dalam genggaman kita kelak akan menjadi salah satu orang yang besar.

Wallahua’lam bishawab

Sekian tulisan dari saya. Tulisan ini saya tujukan untuk diri saya sendiri dan sahabat-sahabat saya yang akan atau sudah mendapat gelar menjadi seorang “Bunda”. Mohon maaf jika ada kekurangan dalam tulisan ini, karena ini pertama kalinya saya menuliskan kisah Sirah, semoga bermanfaat.

Sumber:

Afra, Afifah. 2008. Panduan Amal Wanita Salihah. Afra Publishing. Surakarta.
Salim, Muhammad Ibrahim. 2002. Perempuan-Perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah saw. Gema Insani. Jakarta.

-catatan, bu Ami-

About Amalia Magda
*masih belajar...dan akan terus belajar...sampai Allah tidak mengizinkan lagi disini* Just an ordinary girl who wants to be extraordinary "ummi"…. Amiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: