Malang Tak Dapat Ditolak


Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Beginilah manusia yang jika Allah sudah berkehendak, tak ada yang bisa lakukannya selain berserah diri akan ketetapan-Nya.

Kemaren suasana di kantor berjalan seperti biasanya. Tak ada yang aneh, dan tak ada yang baru. Hanya saja sedikit lebih sepi karena beberapa rekan kantor sedang mengambil cuti pulang ke Indonesia. Setiap hari disini kami di kantor menggunakan system 2 shift atau 2 dawam kata orang Arab. Sistem ini memang hanya Arab yang pakai, katanya untuk menghindari kenaikan suhu di musim panas, jadi karyawan bisa pulang kerumah di siang hari.

Adzan magrib berkumandang, masing-masing rekan kantor saya masih ada yang sibuk di depan kedap kedip layar computer, dan sebagian lagi bergegas menjawab panggilan adzan serta kemudian mengambil wudhu bergantian. Di Arab Saudi ini, waktu antara adzan dan iqomat cukup lama, berbeda dengan Indonesia yang hanya 5-10 menit. Seusai menunaikan kewajiban shalat ini, biasanya atasan saya, yang ruangannya di sebelah ruangan saya, selalu lebih dulu kembali dari Masjid. Namun malam itu beliau belum kembali juga dari Masjid. Innalillahi wa innailaihi roji’un, berita itu sampai di telingaku, ternyata ibunda tercinta dari beliau telah meninggal dunia, dan beliau ternyata selesai shalat magrib tadi menerima telepon dari Indonesia.

Seketika itu juga saya merasakan bagaimana jika saya yang menerima berita itu. Serasa tidak ikhlas saya berada jauh, dan bahkan saya tak sempat melihat seorang ibu tercinta di akhir hidupnya. Memang sulit alias tidak mudah ikhlas mendengar berita kematian, apalagi dari orang terdekat seperti orang tua kita. Ya Allah, perasaan ini seperti tidak menentu. Saya tidak bisa membayangkan dan ingin membuang bayangan itu jika terjadi pada diri saya.

Saya mengucapkan turut berduka di hadapan atasan saya, bersama dengan rekan-rekan lain yang berbondong-bondong dari lantai 1 sampai lantai 5. Wajah beliau yang tetap tersenyum sambil mengucapkan terima kasih, tetap tidak mampu menghilangkan gurat kesedihan. Ya, inilah salah satu tanda-tanda dari Allah, bahwa kematian itu sangat dekat dengan diri kita. Tanda-tanda bahwa berikutnya adalah giliran kita.

Pagi hari tadi, di saat beberapa rekan masih membicarakan tentang berita kematian, tiba-tiba kami justru dikagetkan lagi oleh salah satu rekan kantor yang meninggal dunia. Innalillah, semakin bercampur perasaan ini. Kali ini saya berpikir jika saya yang meninggal, tapi jauh dari keluarga, jauh dari orang-orang yang saya sayangi. Sungguh Allah memberikan berita ini sebagai ibroh untuk manusia yang hidup. Dan akan selalu ada hikmah di balik setiap kejadian.

Akhirnya saya ambil handphone dan langsung saya buka phonebook. Ya, saya harus lakukan sekarang, karena waktu yang berlalu tidak akan mungkin di raih kembali. Saya tekan tombol hijau di handphone, dan keluarlah nama My Lovely Home.

About Roland Yulianto
Setiap insan akan menjadi inspirasi, jika ia tulus memberikan cahayanya. Salah satu prinsip yang dipegang adalah "Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya"

2 Responses to Malang Tak Dapat Ditolak

  1. adek says:

    =’) sulit untuk menerima dan mungkin belum siap tepatnya… Jauh dgn org2 yg disayangi,rasanya blm cukup diri untuk berbakti.. Blm lg bekal diri yg akan di bw mati…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: