Mengasah Kepekaan Hati


أفلم يسيروا في الأرض فتكون لهم قلوب يعقلون بها أو آذان يسمعون بها فإنها لا تعمى الأبصار ولكن تعمى القلوب التي في الصدور

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada.” (QS Al Hajj [22]:46)

Seorang teman menyampaikan bagaimana sulitnya ia sebagai orangtua untuk menanamkan nilai-nilai yang baik kepada anak-anaknya. Ia sadar anak-anaknya banyak terpengaruh oleh keadaan lingkungannya yang ia katakan sebagai ‘serba instan’. Ditambah lagi dengan ‘paradigma internet’ yang menjadikan mereka bergaul dalam lingkungan yang luas tanpa mengenal pijakan dan waktu tapi amat terbatas interaksi sosial-nya. Hal yang menyebabkan sang anak tidak peka terhadap keadaan disekelilingnya.

Hamba itu teringat akan sebuah buku yang pernah dibacanya yang berjudul, ‘The Shallows’ karya Nicholas Carr. Buku ini bercerita bagaimana ‘internet’ sebagai medium yang serba bisa itu membawa perubahan pada pergeseran prilaku berpikir, membaca dan mengingat. Banjir informasi (information ovearloaded) dan kemudahan serta kecepatan dalam memperolehnya membentuk pola dan proses berpikir baru. Lautan informasi memberikan peluang untuk mendapatkan lebih banyak pengetahuan dan wawasan. Namun disisi yang lain, hal tersebut justru mengikis kapasitas untuk berkonsentrasi dan melakukan kontemplasi (dalam istilah agama kita kenal dengan muhasabah). Kesabaran untuk membaca jauh berkurang. Justru yang banyak dilakukan sekarang adalah ‘membaca cepat’ dan ‘sepintas’ yang disebut dengan ‘scan-read’.

Dalam kesehari-harian, anak-anak kita dipaksa untuk mengerjakan tugas-tugasnya tanpa harus ‘mencari’, ‘membaca’ dan ‘menemukan’ informasi yang dibutuhkannya pada sebuah atau beberapa buku. Ia akan lebih memilih aktivias ‘googling’ (search di google). Memilih artikel yang ia anggap layak dan meng ‘copy’ dan ‘paste’ ke dalam tugas yang sedang dikerjakannya.Tanpa kita sadari hal ini mengikis kapasitasnya untuk berkonsentrasi dan menafikan semangatnya untuk membaca.

Saat ini membaca bukan sebuah aktivitas yang penuh dengan kenikmatan lagi. Dahulu kita lebih sering untuk menyempatkan diri membaca dimana saja kita berada, apakah itu diruang keluarga, di ruang tidur, di taman atau café dengan ditemani oleh secangkir teh atau kopi. Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk hanyut dengan buku-buku yang kita baca. Tapi kini kita lebih senang untuk membuka laptop/netbook ataupun tablet computer dimanapun kita berada dan lebih mementingkan keberadaan ‘Wifi’ daripada rasa ‘kopi tubruk’ yang ada di café tersebut. Dalam sebuah survey yang dilakukan oleh Starbuck café , jumlah pelanggan mereka yang datang dan membaca buku jauh menurun jika dibandingkan dengan jumlah mereka yang memegang laptop/netbook/tablet dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Social Network menggantikan cara kita untuk berinteraksi satu sama lain. Kita ataupun anak-anak kita berlomba-lomba untuk memiliki sebanyak-banyaknya ‘friend’ dan ‘follower’. Status dan komentar berseliweran tanpa melihat tatanan moral dan sopan santun dalam menyampaikan dan menanggapi pendapat. Kita telah kehilangan sesuatu yang amat mendasar dalam hubungan antar manusia yaitu ‘bertemu’ dan ‘saling menyapa’

Dalam ayat QS Al Hajj di atas Allah Azza wa Jalla mengingatkan kita untuk selalu ‘berjalan’ di muka bumi ini dan melihat apa yang terjadi di sekeliling kita. Hal yang akan mengasah kepekaan kita dengan hati yang kita miliki. Jangan biarkan hati kita ‘buta’ yang menyebabkan segala apa yang ada di diri sirna tak berbekas. Kita harus selalu berinteraksi untuk saling memahami.

Internet sebagaimana harta adalah ‘media’ (baca: alat) untuk melakukan amal shaleh sebanyak-banyaknya bagi kehidupan akhirat. Harta bukanlah jaminan untk memperoleh kebahagian. Berapa banyak manusia yang kaya raya tapi tidak memperoleh kebahagiaan dan hidup dalam keterasingan. Yang pasti, harta adalah sebuah alat, yang jika dipergunakan sesuai dengan petunjuk dan ridha Allah akan memperoleh keberkahan yang menyebabkan kebahagiaan yang terus menerus sampai ajal menjelang serta jaminan surga dengan kenikmatan yang tiada terperi (QS11:3). Demikian juga dengan internet, jika digunakan dengan niat yang baik dan benar akan ‘mendukung’ cara kita berinteraksi selama ini bukan ‘menggantikan’ peran interaksi itu sendiri. Dibutuhkan sebuah kearifan untuk menggunakannya demi agar nilai-nilai kepekaan itu tidak hilang dari diri.

Bagaimana untuk terus mengasah kepekaan?
Yang penting kita ingat adalah perintah Iqra’ pada QS Al Alaq yang merupakan ayat-ayat Al Quran yang pertama kali turun. Allah Azza wa Jalla memerintahkan kepada kita untuk ‘tidak sekedar membaca’ tapi juga ‘memahami’ akan apa yang yang ada disekeliling kita. Allah mengenalkan diri-Nya sebagai Rabb semesta alam dalam ayat pertama QS Al Alaq: ‘Iqra bismirabbikalladzi khalaq’. Hal ini bukan tanpa hikmah.

Kita mengenal bahwa dalam bahasa arab, Rabb merujuk pada sifat Allah Yang Maha Berproses (baca: mendidik). Allah Azza wa Jalla mengajarkan kepada kita bahwa banyak dari ciptaan-Nya dibentuk melalui sebuah proses dan tidak diciptakan secara ‘instan’ walaupun Allah Maha Berkuasa atas hal ini. Sebagai contoh adalah dalam penciptaan anak cucu adam (baca: manusia). Allah Azza wa Jalla membentuknya dalam sebuah proses dari segumpal darah menjadi segumpal daging menjadi tulang belulang dst hingga menjadi manusia sempurna yang dilahirkan. Semua proses ini membutuhkan waktu selama lebih dari sembilan bulan (baca QS 23:14). Demikian juga dalam hal penciptaan alam semesta dan bumi yang menjadi bagiannya. Allah Azza wa Jalla menciptakannya dalam enam masa (waktu) yang hanya Allah yang tahu berapa lama hal itu terjadi (baca QS 7:54). Kedua hal ini memberi hikmah bahwa untuk mencapai sesuatu kesempurnaan diperlukan sebuah proses untuk mencapainya. Tidak ada yang instan dalam hidup ini.

Hal ini yang dapat menjelaskan kenapa seorang hamba Allah yang mengaku beriman harus menjalani beberapa ujian-Nya di muka bumi ini. Semua itu agar kedudukan (derajat) dari hamba-Nya itu selalu meningkat. Dari predikat mukninin (beriman) menjadi muttaqin (taqwa) untuk kemudian menjadi shalihin (shalih) yang tinggi kedudukannya disisi-Nya. Bukankah seluruh para Nabi dan Rasul pilihan adalah hamba-hamba-Nya yang selalu diuji-Nya?

Sesuatu yang amat menyedihkan adalah kenyataan bahwa kita terkadang tidak memiliki waktu untuk membaca ayat-ayat-Nya di setiap malam padahal kita mengaku beriman dan berikrar bahwa kita akan selalu menjadikan kitab-Nya yang mulia, Al Quran, sebagai pedoman hidup. Bagaimanakah Al Quran dapat menjadi pedoman hidup, kalau membaca dan mengerti akan terjemahannya saja pun kita tidak pernah lakukan dengan rutin setiap malam? Apatah lagi mengajarkannya kepada anak-anak kita?

Jika kita ingin memiliki ‘kepekaan’ dalam diri kita dan anak-anak kita, hendaklah kita memulainya dari saat ini. Jadikanlah rumah kita bagai madrasah malam hari dimana anggota keluarganya sebelum tidur selalu membaca ayat-ayat-Nya dan juga terjemahannya sebagai sebuah modal untuk memiliki ‘kepekaan hati’ yang merupakan kekayaan (jiwa). Ingatlah akan sebuah pesan yang amat berharga dari Rasulullah Saw dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Abbas ra. Nabi bersabda, “Bacalah dan ajarkan kepada istri dan anak-anak kalian surah Al Waqi’ah karena sesungguhnya surah itu adalah surah kekayaan.” (HR Ibnu Asakir)

“Sesungguhnya telah kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang didalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Apakah kamu tiada memahaminya?” (QS Al Anbiyaa’ [21]:10)

Artikel : e-dakwah

About Roland Yulianto
Setiap insan akan menjadi inspirasi, jika ia tulus memberikan cahayanya. Salah satu prinsip yang dipegang adalah "Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: